Paes Ageng


PAES AGENG adalah merupakan ciri khas busana pengantin adat pada zaman Dinasti Mataran. Namun akibat situasi politik pascakehancuran keraton Kartasura, di wilayah budaya Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran kemudian dikenal gaya Solo Basahan.

Dalam Hajad Dalem Mantu KGPAA Mangkunagaro IX, khususnya pada acara puncak pahargyan (13/6), busana pengantin adat itulah yang akan digunakan.

Benar, GRA Agung Putri Suniwati dan Sarwana Thamrin akan naik ke pelaminan dengan mengenakan busana yang konon merupakan yasan (hasil karya-red) SISKS Paku Buwono II tersebut.

Lalu bagaimana dengan busana Paes Ageng? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya sejenak membuka catatan sejarah misalnya Babad Tanah Jawi dan Babad Kartasura.

Ketika dilakukan perjanjian Giyanti (Palihan Nagari:1755), yaitu pecahnya dinasti Mataram menjadi Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta, busana Paes Ageng itu diminta oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

SISKS Paku Buwono II yang menjadi raja di Keraton Surakarta Hadiningrat, kemudian yasa busana pengantin lagi. Busana gagrak baru itulah yang kemudian dinamakan Solo Basahan.Sedangkan Paes Ageng hingga sekarang tetap lestari menjadi ciri khas busana adat Keraton Yogyakarta.

Perbedaan

Pura Mangkunegaran (Kadipaten) yang atas dasar Perjanjian Salatiga (1757) masih berada di wilayah Keraton Surakarta, tentu kultur masyarakatnya sedikit banyak juga ikut terpengaruh. Busana pengantin Solo Basahan pun menjadi bagian kehidupan adat di dalamnya.

Menurut penuturan pakar rias busana Pura Mangkunegaran, Kanjeng Raden Ayu Tumenggung (KRAyT) Amie Soekardi, gaya busana Paes Ageng dengan Solo Basahan nyaris serupa. Kalau toh ada perbedaan,  hanya menyangkut persoalan unsur-unsurnya.

’’Unsur rias wajah masih terdiri gajah-gajahan (bagian tengah kening), pengapit (pendamping di kiri dan kanan gajah-gajahan), penitis (sebelah pengapit) dan godheg (di sisi kedua telinga).  Bedanya jika Paes Ageng lebih lancip, sementara Solo Basahan lebih bulat,’’ katanya.

Dalam hal busana, antara Paes Ageng dan Solo Basahan juga menggunakan model dodot ageng. Lalu pengantin pria mengenakan kuluk kanigara, dan pengantin putri menggunakan konde.

Perbedaan yang terdapat dalam tata busana, jika Paes Ageng menggunakan motif bercorak tanaman yang baru bersemi, Solo Basahan menggunakan corak alas-alasan (tanaman hutan). 

’’Filosofinya jika Paes Ageng itu mengungkap tentang keagungan, maka Solo Basahan tentang kehidupan yang gemah ripah loh jinawi,’’ tandasnya.
Menurut pengamat budaya Jawa Kalingga Honggodipura, bentuk rias pada pengantin adat Jawa mengungkap pemaknaan manunggaling jalu lan estri kaajab hambabar wiji dadi. Menarik bukan?

Before
Salon dan Rias Pengantin TubanSalon dan Rias Pengantin Tuban
After













  Salon dan Rias Pengantin Tuban

Popular Posts

Follow by Email

Cari